IKAN DALAMKOLAM:Perspektif Antropologis

Opini 4 menit baca 85 kali dilihat
IKAN DALAMKOLAM:Perspektif Antropologis
Oleh; Dr. Pahmi.Sy, S.Ag, M.Si

Sore yang penuh sejuk dibawah pohon-pohon kayu yang rindang di Kampus II bagian belakang, Civitas Akademika, mahasiswa, Pusat Lingkungan dan Rektor UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, 22 Juni 2026 menaburkan benih ikan Gurami di dalam kolamberukuran lebih kurang 30 x 300 meter. Aktivitas ini sebagai penanda bahwa UIN STS memiliki komitmen terhadap kelestarian lingkungan. “Ikan dalam kolam” bukan sekadar gambaran tentang makhluk hidup yang berada di suatu habitat perairan.

Dalam perspektif antropologis, ikan dalam kolam dapat dimaknai sebagai simbol hubungan timbal balik antara manusia, budaya, dan lingkungan. Kolam merupakan ruang hidup yang diciptakan atau dikelola manusia, sedangkan ikan menjadi bagian dari sistem sosialekologis yang mencerminkan nilai, pengetahuan, dan praktik budaya masyarakat. Antropologi memandang lingkungan bukan hanya sebagai ruang fisik, tetapi juga ruang budaya yang sarat makna. Bagi masyarakat pedesaan, kolam sering kali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, sumber pangan, sarana ekonomi, bahkan simbol kesejahteraan keluarga.

Kehadiran ikan dalam kolam menunjukkan kemampuan manusia beradaptasi dan mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Dalam banyak komunitas agraris di Indonesia, kolam ikan dibangun melalui pengetahuan lokal yang diwariskan antargenerasi. Cara memilih lokasi, mengatur aliran air, hingga menentukan jenis ikan yang dipelihara merupakan bentuk kearifan ekologis yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat berinteraksi dengan alam. Dalam berbagai kebudayaan, ikan sering dimaknai sebagai simbol kehidupan, keberuntungan, kesuburan, dan rezeki. Masyarakat tidak hanya melihat ikan sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari tatanan moral dan spiritual. Oleh karena itu, pengelolaan kolam sering disertai norma dan etika tertentu yang mengatur hubungan manusia dengan alam.

Dari sudut pandang antropologi simbolik, ikan dalam kolam dapat dipahami sebagai metafora kehidupan manusia. Sebagaimana ikan bergantung pada kualitas air dan ekosistem kolam, manusia juga bergantung pada kualitas lingkungan sosial dan alam tempat ia hidup. Ketika kolam terpelihara dengan baik, ikan tumbuh sehat; demikian pula ketika lingkungan sosial dijaga dengan nilai-nilai kebersamaan, manusia dapat berkembang secara optimal. Secara filosofis, ikan dalam kolam dapat dimaknai sebagai manusia dalam lingkungan sosialnya. Sebagaimana ikan tidak dapat hidup tanpa air, manusia juga tidak dapat hidup tanpa dukungan lingkungan alam dan sosial. Kesehatan lingkungan menentukan kualitas kehidupan masyarakat.

Banyak persoalan lingkungan saat ini, seperti pencemaran sungai, penumpukan sampah, deforestasi, dan perubahan iklim, menunjukkan bahwa manusia sering kali lupabahwa dirinya adalah bagian dari ekosistem. Manusia bertindak seolah-olah berada di luar “kolam”, padahal sesungguhnya ia hidup di dalamnya. Kesadaran ekologis inilah yang menjadi pesan penting antropologi lingkungan: menjaga alam berarti menjaga diri sendiri. Dalam perspektif Islam, manusia diposisikan sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas memakmurkan dan menjaga keseimbangan alam. Firman Allah dalam Al-Qur’an: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini menegaskan bahwa kerusakan lingkungan bukanlah fenomena alam semata, melainkan akibat perilaku manusia yang tidak bijaksana dalam mengelola sumber daya. Ikan yang mati karena kolam tercemar menjadi simbol nyata dari konsekuensi tindakan manusia terhadap lingkungan.

Sebaliknya, kolam yang terawat dengan baik menunjukkan adanya harmoni antara manusia dan alam. Antropologi lingkungan menekankan bahwa manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang saling memengaruhi. Kolam yang tercemar akan mengancam kehidupan ikan, sementara praktik pengelolaan yang bijaksana akan menjaga keberlanjutan ekosistem. Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan manusia bukan ditentukan oleh kemampuannya menaklukkan alam, melainkan oleh kemampuannya hidup harmonis bersama alam.

Julian Steward Antropolog ternama berpendapat bahwa kehidupan manusia dan makhluk hidup sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka berada. Dalam konteks ikan dalam kolam, perilaku dan kehidupan ikan ditentukan oleh kondisi kolamnya. Analogi ini menunjukkan bahwa budaya manusia juga terbentuk melalui proses adaptasi terhadap lingkungan. “Ikan dalam kolam” mengajarkan bahwa keberlanjutan hidup memerlukan keseimbangan antara kebutuhan manusia dan kelestarian lingkungan. Ketika keseimbangan itu terganggu, baik manusia maupun ekosistem akan mengalami kerugian.

Dalam perspektif antropologis, “ikan dalam kolam” merupakan cerminan hubungan erat antara manusia, budaya, dan lingkungan. Kolam bukan sekadar wadah air, melainkan ruang budaya yang menyimpan pengetahuan, nilai, dan praktik hidup masyarakat. Melalui pemaknaan ini, kita diingatkan bahwa menjaga lingkungan berarti menjaga keberlangsungan kehidupan itu sendiri. Sebagaimana ikan membutuhkan kolam yang sehat, manusia pun membutuhkan lingkungan yang lestari untuk mewariskan masa depan yang lebih baik kepada generasi berikutnya. “Lingkungan bukan warisan nenek moyang semata, melainkan titipan bagi generasi yang akan datang.”

Syafitri Handayani

Lihat semua artikel →

Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi. All Rights Reserved. UTIPD 2026.