“Iduladha dan Kesadaran Ekologis: Pemanfaatan Eco Enzyme untuk Sanitasi Lingkungan Kurban Berkelanjutan”
Oleh : Bayu Kurniawan, S.Si., M.Sc*
Menjelang Hari Raya Iduladha, kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan limbah kurban mulai meningkat. Tidak hanya fokus pada pembagian daging yang menggunakan tempat dari anyaman bambu (besek bambu) sebagai pengganti plastik. Sejumlah warga dan komunitas lingkungan kini mulai memanfaatkan eco enzyme sebagai solusi alami untuk mengurangi bau dan limbah organik lainnya selama proses penyembelihan hewan kurban.
Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik. Formulasi pembuatan eco enzyme menggunakan gula merah/molase, kulit buah/sayuran dan air dengan rasio 1 : 3 : 10 yang difermentasi selama kurang lebih tiga bulan. Cairan ini dikenal memiliki banyak manfaat, mulai dari pembersih alami, pengurai limbah organik, hingga pengurang bau tidak sedap.
Pada momen Hari Raya Iduladha, penggunaan eco enzyme dinilai cukup relevan. Limbah seperti darah, sisa pencucian jeroan, maupun bau dari lokasi penyembelihan sering menjadi keluhan masyarakat, terutama di kawasan permukiman padat. Dengan menyemprotkan atau mencampurkan eco enzyme ke saluran air dan area penyembelihan, bau menyengat dapat dikurangi secara alami tanpa bahan kimia berlebihan.
Selain itu, pemanfaatan eco enzyme juga menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat dalam pengelolaan sampah organik berbasis rumah tangga. Kulit buah yang biasanya terbuang dapat diolah menjadi cairan multifungsi yang bermanfaat bagi lingkungan dan memiliki nilai ekonomis. Buah dan sayuran yang terbuang masih mengandung berbagai senyawa bioaktif seperti kabohidrat, serat, vitamin, gula sederhana, asam fenolik, flavonoid, polifenol, antioksidan, dan enzim. Tingginya kandungan senyawa metabolit sekunder pada limbah buah dan sayuran berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku produk turunan ramah lingkungan, seperti eco enzyme, sehingga dapat mengurangi timbulan sampah organik secara berkelanjutan. Konsep ini sejalan dengan semangat Iduladha yang tidak hanya berbagi kepada sesama manusia, tetapi juga menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sekitar ujar Bayu Kurniawan (Dosen Biologi FST UIN STS Jambi)
Beberapa penelitian dari jurnal bereputasi menyebutkan bahwa eco enzyme mengandung asam organik, enzim aktif, serta mikroorganisme hasil fermentasi yang berpotensi membantu proses penguraian limbah organik dan menghambat pertumbuhan patogen tertentu. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Maveni et al., 2020 menyebutkan bahwa eco enzyme dari limbah kulit nanas terbukti memiliki sifat anti mikroba dan anti inflamasi karena memiliki senyawa polifenol dan flavonoid. Hasil ini juga diperkuat oleh penelitian Das et al., 2024 menyebutkan bahwa eco emzyme yang baik adalah memiliki pH dibawah 4. Hasil fermentasi limbah kulit nanas memiliki pH 3,6, kulit jeruk memiliki pH 3,1 dan kulit pisang memiliki pH 3,9.

Meski demikian, perlu diingat bahwa penggunaan eco enzyme tetap perlu dilakukan secara bijak dan tidak menggantikan standar sanitasi utama dalam pengolahan limbah agar memiliki nilai maanfaat.
Di berbagai daerah, gerakan kurban ramah lingkungan juga mulai digaungkan, termasuk pengurangan penggunaan plastik sekali pakai diganti dengan besek bambu (anyaman bambu) dalam pembagian daging kurban. Selain itu, langkah kecil seperti penggunaan eco enzyme juga dinilai mampu menjadi bagian dari budaya kurban yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi lingkungan
Dengan semakin meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungan, Iduladha tidak hanya menjadi momentum ibadah dan berbagi, tetapi juga kesempatan untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan melalui inovasi sederhana seperti eco enzyme.
Takaran untuk membersihkan bau tak sedap setelah penyembelihan hewan kurban yaitu 1 liter eco enzyme : 10 liter air (untuk penyemprotan area penyembelihan dan saluran limbah), 1 liter eco enzyme : 20 liter air (untuk mengepel lantai).
* Dosen Biologi FST UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi