GENG MOTOR:(Melemahnya Pranata Sosial dan Struktur Sosial)
Oleh; Dr. Pahmi.Sy.Ag, M.Si (Wakil Raktor Bidang Administrasi Umum Perencanaan Keuangan UIN STS Jambi)
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi memberikan apresiasi yang tinggi terhadap upaya Polda Jambi medorong berbagai pihak untuk terlibat dalam penanggulangan aksi geng motor di Propinsi Jambi. Dalam rapat Koordinasi hari Rabu, 8 Juli 2026 di Aula lantai 3 Gedung Siginjai Poda Jambi yang dihadiri langsung Gubernur Jambi, Forkopimda, Bupati, Walikota, Ketua LAM, MUI, Kaula muda, LSM, Pers dan lainnya, Kapolda mengajak sumua unsur untuk peduli dan terlibat dalam pencegahan, penangggunlangan aksi geng motor demi keamanan, kenyamanan dan masadepan generasi muda Jambi.
Kapolda menyampaikan bahwa Aksi Brutal Geng Motor menyebabkan terjadinya bentrokan di wilayah Kabupaten Batang Hari dan Kabupaten Muaro Jambi pada Minggu (28/6/2026) dini hari yang menewaskan satu orang dan disertai perampasan sepeda motor. Sepanjang 2024 s.d 2026 terdapat 34 kejadian dan puncaknya tahun 2025 sejumlah 17 Kejadian (aksi brutal geng motor). Hal ini sebagai penanda bahwa geng motor masih berkeliaran di Jambi. Aktivitas Geng motor bukan soal kehobyan dan kenakalan remaja, tetapi sudah masuk kejahatan atau kriminalitas yang telah merusak kehidupan masyarakat dan mengancam masa depan generasi muda.
Kapolda Jambi mencatat terdapat sejumlah kelompok Geng motor yang tersebar di Kabupaten/kota. Kota Jambi sebanyak 116 kelompok, Muaro Jambi 4 kelompok, Batang Hari 4 Kelompok, Sarolangun 3 Kelompok, Tanjabbarat 3 kelompok, dan Bungo 3 Kelompok, Sedangkan Kabupaten lainnya tidak terdeteksi. Meraka melakukan aksi secara umum pada malam sabtu dan malam minggu, mulai pukul 01.00 WIB sampai pukul 05.30 WIB, sedangkan alat yang digunakan selain motor yang sudah dimodifikasi sesuai selera anak muda dan knalpot yang bersuara besar, mereka geng motor juga menggunakan alat seperti celurit, engrek, parang, pedang, samurai, tombak, busur panah dan kayu panjang.
Fenomena geng motor yang semakin marak di berbagai daerah bukan sekadar persoalan kenakalan remaja atau kriminalitas jalanan belaka, tetapi dari perspektif antropologi dan sosiologi, geng motor merupakan gejala melemahnya pranata sosial dan rapuhnya struktur sosial yang selama ini berfungsi membentuk kepribadian, mengendalikan perilaku, serta menjaga keteraturan masyarakat.
Pranata sosial seperti keluarga, sekolah, lembaga keagamaan, dan organisasi kemasyarakatan memiliki fungsi utama sebagai agen sosialisasi dan kontrol sosial Di dalam keluarga, anak belajar tentang kasih sayang, disiplin, dan tanggung jawab. Di sekolah mereka dibentuk menjadi pribadi yang berilmu dan berkarakter. Di lingkungan keagamaan mereka ditanamkan nilai moraldan spiritual. Ketika pranata-pranata tersebut tidak lagi berjalan secara optimal, maka ruang kosong itu sering diisi oleh kelompok sebaya yang menawarkan solidaritas semu, pengakuan, dan identitas, salah satunya melalui geng motor.
Dalam perspektif sosiologi, kondisi tersebut juga menunjukkan melemahnya struktur sosial. Struktur sosial merupakan jaringan hubungan antarindividu dan lembaga yang mengatur hak, kewajiban, serta norma kehidupan bersama. Ketika hubungan antara keluarga, sekolah, masyarakat, aparat keamanan, dan pemerintah tidak berjalan secara sinergis, maka kontrol sosial ikut melemah. Akibatnya, perilaku menyimpang lebih mudah berkembang dan bahkan dianggap sebagai simbol keberanian atau prestise di kalangan remaja tertentu.
Sosiolog Prancis Emile Durkheim menyebut kondisi ini sebagai anomie, yaitu keadaan ketika norma sosial kehilangan daya ikat sehingga individu kehilangan pedoman dalam bertindak. Sementara itu, ditegaskan bahwa masyarakat akan tetap stabil apabila setiap pranata sosial menjalankan fungsinya secara harmonis. Namun ketika salah satu pranata mengalami disfungsi, keseimbangan sosial akan terganggu.
Dari sudut pandang antropologi, geng motor juga dapat dipahami sebagai bentuk pencarian identitas budaya. Remaja membutuhkan pengakuan, status, dan rasa memiliki. Jika kebutuhan tersebut tidak diperoleh melalui keluarga, pendidikan, olahraga, seni, maupun organisasi kepemudaan, mereka akan mencarinya dalam kelompok yang memberikan solidaritas, meskipun melalui tindakan yang melanggar hukum.
Oleh karena itu, penanggulangan geng motor tidak cukup hanya melalui pendekatan represif atau penegakan hukum. Yang lebih penting adalah membangun kembali kekuatan pranata sosial melalui penguatan ketahanan keluarga, peningkatan kualitas pendidikan karakter, revitalisasi peran masjid dan lembaga keagamaan, pemberdayaan organisasi kepemudaan, penyediaan ruang kreatif bagi generasi muda, serta sinergi antara pemerintah, sekolah, tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat.
Gubernur Jambi Dr. H. Al-Haris. S.Sos, MH menyampaikan bahwa munculnya geng motor tersebut disebabkan rusaknya institusi keluarga, keluarga yang broken home, dimana hilangnya perhatian dan kasih sayang serta lenyapnya tempat curhat anak-anak usia sekolah dan remaja tersebut, maka mereka akan mencari jati diri baru,. satu diantaranya adalah geng motor. Gubernur menawarkan bahwa anak-anak usia sekolah tersebut harus dikembalikan kesekolah melalui sekolah rakyat atau sekolah khusus yang berasrama, sehingga bisa dibina selama 24 jam.
Selain itu, kearifan lokal juga memiliki peran penting sebagai benteng sosial. Di Jambi, nilai-nilai adat seperti “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah” mengajarkan bahwa kehidupan masyarakat harus dibangun di atas nilai agama, musyawarah, gotong royong, dan tanggung jawab sosial. Nilai-nilai tersebut perlu dihidupkan kembali agar menjadi fondasi dalam membentuk karakter generasi muda.
Begitu juga dengan Lembaga Perguruan Tinggi seperti UNJA, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi dan lainnya memiliki peran penting dalam penanggulangan aksi geng motor, sebab disamping SDM yang mumpuni, keilmuan yang dimiliki, integritas yang tinggi serta tridarma perguruan tinggi (riset, pendidikan dan pengabdian) akan dapat memberikan konstribusi berdampak khusunya melalui edukasi dan pengabdian masyarakat melalui ribuan dosen dan tendik Kemudian hal yang tidak kalah pentingnya melalui puluhan ribu mahasiswa yang merupakan alumi dari Sekolah Menegah Atas, Sekolah Menegah Kejuruan, Madrasayah Aliyah dan sederajat lainnya (sekolah asal) dapat menyampaikan kesekolah asalanya baik secara langsung maupun tidak langsung akan membatu mengedukasi adik-adik tingkatnya agar berkegiatan positif dan produktif serta menjauhi, menolak dan menghentikan aktivitas yang bernuansa negatif, seperti Geng motor.
Pada akhirnya, geng motor bukan hanya persoalan individu yang nakal , tetapi cerminan melemahnya pranata sosial dan renggangnya struktur sosial. Masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang memiliki hukum yang tegas, tetapi juga masyarakat yang mampu menjaga keluarga, pendidikan, agama, adat, dan solidaritas sosial sebagai pilar utama peradaban. Dengan memperkuat kembali pranata-pranata tersebut, generasi muda dapat diarahkan menjadi agen perubahan yang produktif, berkarakter, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.